Selasa, 06 September 2011

SENI RUPA KELAS 7 /1

RPP.No. 2 

STANDAR KOMPETENSI       : 1.   Mengapresiasi karya seni rupa
KOMPETENSI DASAR            : 1.2 Menampilkan sikap apresiatif terhadap keunikan gagasan dan teknik karya seni rupa terapan daerah setempat
TUJUAN PEMBELAJARAN
Siswa mampu :
  1. Mendefinisikan konsep apresiasi
  2. Mengidentifikasi jenis-jenis apresiasi     
  3. Membuat apresiasi/tanggapan secara tertulis tentang keunikangagasan,Teknik pembuatan,fungsi,dan makna karya seni rupa daerah setempat (Jawa Tengah)
  4. Membuat kliping karya seni rupa terapan daerah Jawa Tengah
  5. Membuat tanggapan secara tertulis tentang keunikan gagasan dan teknik pembuatan karya seni rupa terapan daerah (Jawa Tengah)
  6. Memahami bentuk karya seni rupa terapan daearah yang berupa seni kerajinan dan seni kriya 
   -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------



A.   SENI KRIYA
Latar belakang Seni Rupa Terapan Indonesia. 
        
           Seni Rupa Terapan (PRACTICE ART / APPLIED ART /USEFUL ART) merupakan istilah yang dipakai untuk menyebut jenis karya seni rupa yang dalam perwujudannya mengutamakan kegunaan /fungsi benda yang dibuat serta menjadikan keindahan sebagai   pemanis  benda tersebut.  Sehingga  Seni Rupa Terapan disebut juga dengan istilah Seni Pakai. Contohnya: Seni Kerajinan, Seni  Kriya dan Seni Desain
Konon, pada awalnya  Seni Rupa bertujuan untuk membuat barang-barang fungsional (berguna), baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan (religius) maupun untuk memenuhi kebutuhan praktis dalam kehidupan manusia seperti; perkakas rumah tangga. Hal ini dapat kita lihat pada artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada jaman batu dan peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada jaman logam berupa; nekara, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin.

      Benda-benda Seni Rupa tersebut dahulu dipakai sebagai perhiasan, upacara adat (suku) serta upacara penghormatan terhadap arwah nenek moyang, sehingga disebut karya seni rupa fungsional. Tetapi kemudian perkembangan intelektual dan spiritual manusia menuntun seni rupa berkembang lebih dari sekedar untuk memenuhi kebutuhan praktis, tetapi mulai bergeser menambahkan nilai estetis pada benda-benda seni kerajinan. Sehingga akhirnya seni rupa berkembang dalam segi teknis dan media yang digunakan tertentu dan khas (berkualitas  tinggi) agar dapat menghasilkan karya yang bermutu dari sisi teknis, keindahan dan fungsi.
 
 
 
Selanjutnya  berdasarkan teknis, bahan dan tujuannya, maka seni rupa fungsional dapat di kategorikan:
  1. Berkembang di lingkungan keraton (jero beteng) dengan mengutamakan nilai estetis (keindahan), teknik, bahan, fungsi dan diperuntukkan bagi Raja/bangsawan, disebut Seni Kriya"
  2. Berkembang di masyarakat biasa (jaba beteng) yang seadanya, hanya mementingkan nilai fungsi/ praktis,  tidak mengutamakan nilai estetis, dan dikonsumsi oleh rakyat biasa / kawula alit, disebut “Seni Kerajinan”.
Pada masa sekarang Seni Kriya tidak hanya berkembang dilingkungan Keraton (Jero Benteng), tetapi sudah banyak berkembang di luar tembok keraton (Jaba Benteng).
Pada masa sekarang, karena batas keraton sudah sangat tipis, maka selanjutnya karya  Seni Rupa Fungsional dibedakan berdasarkan kehandalan teknik/Craftmenship dan bahan yang dipakai.
a.   Seni Rupa Fungsional yang mengutamakan craftmenship selanjutnya disebut dengan istilah Seni Kriya
b.   Seni Rupa Fungsional yang tidak mengutamakan craftmenship disebut Seni Kerajinan.
B.  PENGERTIAN SENI KRIYA
  1.   Prof. SP. Gustami
Seni kriya adalah karya seni yang unik dan punya karakteristik di dalamnya terkandung muatan-muatan nilai estetik, simbolik, filosofis dan sekaligus fungsional oleh karena itu dalam perwujudannya didukung  craftmenship yang tinggi, akibatnya kehadiran seni kriya termasuk dalam kelompok seni-seni adiluhung. 

       2.   Dr. Timbul Raharjo, M.Sn
Secara umum tentang batasan seni kriya, yaitu salah satu bentuk produk seni rupa, fungsional atau non fungsional, yang mengutamakan pada nilai-nilai dekoratif dan kerja tangan dengan craftmanship tinggi, pada umumnya menggali nilai-nilai tradisi yang bersifat unik.

Dari uraian-uraian tersebut dapat ditarik satu kata kunci yang dapat menjelaskan pengertian kriya yaitu penciptaan karya seni yang didukung  oleh ketrampilan (skill) yang tinggi, dengan penguasaan media dan pengerjaan yang serius (craftsmenship).

C. PENGELOMPOKKAN SENI KRIYA
 1. Berdasarkan material yang digunakan:
Kriya logam, kriya kayu, kriya serat, kriya tanah (keramik), kriya tekstil, kriya kulit, kriya batu, kriya bambu dll.
 2. Berdasarkan bentuknya:
Bentuk dua dimensi (ukir, relief, lukisan) dan bentuk tiga dimensi menghasilkan karya-karya “berbentuk patung”, dan benda-banda fungsional seperti: keris, mebel/furniture dan juga busana adat.
 3. Berdasarkan teknik yang digunakan: 
      Teknik pahat (ukir) atau butsir, teknik rakit, teknik cetak, teknik pilin, slabing (keramik), teknik     
      tenun, teknik batik (tekstil), teknik anyam (bambu, rotan). 


Memahami karya seni rupa pada hakikatnya tidak bisa hanya dari satu sisi, misalnya hanya melihat dari bahan atau teknik yang digunakan. Tampilan/ wujud visual sebuah karya seni bisa saja serupa tetapi jika mengetahui konsep tujuan penciptaanya, maka dapat menjadi berbeda nilai karya seni dan pengelompokkannya. Menilai karya seni harus secara menyeluruh agar bisa mengerti bukan saja keunikannya tetapi juga semangat yang terkandung didalam suatu karya seni.

APRESIASI
A. Pengertian Apresiasi
Apresiasi berasal dari bahasa Latin, Apprecetiatus yang artinya penilaian dan penghargaan sedangkan dalam bahasa Inggris berasal dari kata appreciation, dalam bentuk kata kerja yaitu to appreciate yaitu menyadari sepenuhnya sehingga dapat menilai karya seni sesuai dengan kadarnya.
Secara bebas, Apresiasi dapat diartikan sebagai kegiatan   mengartikan dan menyadari sepenuhnya seluk beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap gejala  keindahan sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut secara semestinya.
Sedangkan menurut S.E. Effendi,  Apresiasi adalah mengenali karya sehingga menumbuhkan pengertian, penghargaan, kepekaan untuk mencermati kelebihan dan kekurangan terhadap karya
Kegiatan pengamatan merupakan kegiatan fisik (indrawi) dan psikis (batin. Pengamatan merupakan usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan /data. Pengetahuan ini yang kemudian dipakai untuk menilai kadar estetik (keindahan) sebuah karya seni.
B. Proses Apresiasi
Kegiatan apresiasi meliputi :
a.    Persepsi
Mengamati karya seni dengan indrawi ( seni rupa : mata dan  rabaan)
b.    Analisis
Mengolah hasil persepsi menjadi sebuat simpulan berdasarkan beberapa kriteria. Misalnya: ide, betuk, teknik, bahan, prinsip seni rupa, kreativitas dll
c.    Penilaian
Hasil analisis yang diungkapkan dalam bentuk penghargaan terhadap karya seni yang dinilai. Misalnya” baik-buruk”.
d.    Apresiasi
Hasil akhir dari seluruh proses, menentukan jenis apresiasi yang terjadi. Hal ini tentu saja tidak semata-mata dipengaruhi oleh obyek.karya seni yang diamati, tetapi juga bergantung pada pengalaman seni orang yang mengapresiasi, latar belakang keilmuannya di bidang seni rupa dan cara pandangnya terkait selera seninya.


CARA MENILAI KARYA SENI RUPA TERAPAN 
A.  Melihat dengan menyeluruh visualisasi suatu karya
B.  Melakukan pendataan terhadap keadaan karya yang didukung oleh:
  1. Ide
  2. Kreativitas
  3. Teknik pembuatan (Craftmenship)
  4. Ragam Hias
  5. Keunikan
  6. Bahan yamg digunakan
  7. Prinsip Desain Form follow function (bentuk mengikuti fungsi)rupa terapan
 C.  Kriteria penilaian karya seni 
1.  Prinsip seni rupa 
2.  Fungsi  benda 
3.  Komposisi

MANFAAT APRESIASI
1.       Wacana seni
2.       Komunikasi seniman dengan masyarakat
3.       Pelestarian nilai dan kegiatan seni
4.       Belajar memahami / berempati dengan pihak diluar dirinya
5.       Pengalaman Seni

Print this post

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © 2009 rupa kampung Designed by csstemplatesmarket

Converted to Blogger by BloggerThemes.Net
BacktoTopRN