Saturday, August 13, 2011

Mengapa SATU ATAP didirikan

Tunjungmuli, desa tempat sekolah kami berada merupakan sebuah desa yang terletak di pinggiran kota Purbalingga. Berjarak sekitar 30 km dari Kota Purbalingga.
Tunjungmuli memiliki penduduk 11.185 jiwa terdiri atas 5806 laki-laki dan 5379 perempuan dan luas wilayah 900 ha  dengan pemukiman penduduk terpencar dipisahkan perbukitan, sawah dan sungai. Mata pencaharian penduduk sebagian besar bergantung pada pertanian,  bekerja sebagi buruh tani sehingga pendapatannya sulit untuk dipastikan. Kadang ada, kadang tidak.

Sudah sejak dahulu cerita tentang anak 12 tahun di desa Tunjungmuli menikah selepas lulus SD/MI terjadi di sana. Hal ini karena perspektif mereka terhadap hidup dan pendidikan belum memadai. Anak perempuan yang baru lulus SD/MI akan dilamar oleh si pemuda di desanya dan orang tua anak perempuan menganggap suatu keberuntungan. Pernikahan dini dianggap meringankan beban ekonomi keluarga karena tanggungjawab berpindah kepada menantunya,  serta aman dari kekhawatiran mendapat cemoohan memiliki anak perawan yang tidak laku.

Keberadaan pendidikan yang kurang memadai mungkin menjadi faktor pemicu, "dari pada menganggur setelah lulus SD, lebih baik belajar mengurus suami dan anak, tokh kesempatan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sangat kecil peluangnya, disamping faktor jarak yang jauh dan tidak adanya angkutan umum juga biaya". Kampanye dan praktek nyata tentang penting dan murahnya pendidikan menjadi bagian penting untuk menggugah kesadaran masyarakat  menuntaskan minimal pendidikan dasar 9 tahun. Berdirinya SMP N 4 Satu Atap menjadi harapan bersama warga desa Tunjungmuli dan desa Panusupan untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, walaupun berbagai keterbatasan label "SATU ATAP" sesungguhnya menjadi permasalahan tersendiri.

Program Pemerintah tentang Wajib Belajar 9 tahun tampaknya mengalami "musuh" cukup besar disini. Jumlah siswa yang semakin banyak karena kesadaran yang semakin baik, tetapi jumlah ruang kelas masih kurang/tidak ada, apalagi fasilitas seperti laboratorium, ruang komputer, ruang kesenian, perpustakaan belum pernah ada kabar Satu Atap akan menerimanya seperti sekolah reguler yang berhak menikmatinya kendati beberapa jumlah siswa di SMP Reguler justru lebih sedikit, bahkan prestasi akademik dan non akademikpun dibawah sekolah Satu Atap.
Berikut data jumlah siswa dan kebutuhan ruang kelas dari tahun 2007 s/d 2011 di SMP N 4 Satu Atap Karangmoncol.


TAHUN 2007 
Jumlah Siswa 41 anak
Jumlah Gedung 2 Kelas , 1 Ruang Guru



TAHUN 2008
Jumlah Siswa 129 anak

Jumlah Gedung 3 Kelas 
Ruang Guru dipakai untuk kelas


TAHUN 2009
Jumlah Siswa 179 anak

Jumlah Gedung 4 Kelas (mendapat 1 tambahan gedung baru)
Kekurangan: 2 kelas dan 1 Ruang Guru


TAHUN 2010
Jumlah Siswa 219 anak

Jumlah Gedung 5 Kelas (mendapat 1 tambahan gedung baru)
Kekurangan: 1 kelas dan 1 Ruang Guru

TAHUN 2011
Jumlah Siswa 229 anak

Jumlah Gedung 5 Kelas
Kekurangan: 2 kelas dan 1 Ruang Guru Belum pernah punya laboratorium apapun





Print this post

0 comments:

Post a Comment

 

Copyright © 2009 rupa kampung Designed by csstemplatesmarket

Converted to Blogger by BloggerThemes.Net
BacktoTopRN